Pengumpan:
Tulisan
Komentar

  1. Abaikan tingkah laku yang tidak sepantasnya (berteriak, membenturkan kepala, menangis dengan berguling-guling) dengan tidak memberikan perhatian sama sekali (memandang, berteriak, atau berbicara). Cari kegiatan lain. Pastikan semua anggota keluarga/orang dewasa dalam ruangan itu mendukung kita dan mengabaikan anak tersebut. Bersiaplah memujinya pada saat dia menghentikan tindakan yang tidak pantas tersebut.
  2. Tinggalkan sejenak bila anak sedang melampiaskan kemarahannya. Duduklah agak jauh sambil mengawasi dan melindunginya dari berbagai bahaya. Berikan kesempatan kepada anak dan orang tua untuk menenangkan diri.
  3. Alihkan perhatian merupakan salah satu upaya untuk menghindari situasi bermasalah (rebutan mainan, bertengkar). Jika perkataan orang tua diucapkan dengan ramah, bersemangat, dan muka lucu maka anak akan menghentikan apa yang dilakukannya dan mengikuti saran kita.
  4. Beritahukan tingkah laku alternatif jika seorang anak melakukan sesuatu yang tidak sepantasnya. Biasanya anak-anak tidak akan berhenti mencari penyaluran atas kreativitas dan energi fisik saat mereka marah (corat-coret dinding, membanting benda). Ajari mereka untuk menemukan pengganti aktivitas seperti mainan ataupun kegiatan untuk mengatasi perilaku yang bermasalah.
  5. Carilah segi positifnya dari perilaku anak, kemudian berikan pujian. Bila anak senang berkelahi maka katakan bahwa dia adalah anak yang kuat dan berani, sebaiknya…
  6. Tawarkan pilihan kepada anak setiap hari. Cara ini dapat mendorong anak untuk berpikir dan memperoleh kekuatan pendirian yang sehat dan percaya diri dengan keputusan yang dibuat.
  7. Gunakan rasa humor untuk meringankan ketegangan baik secara fisik maupun mental. Humor dalam mengasuh anak cenderung memasukkan unsur yang melebih-lebihkan dan hayalan. Ini tidak mahal, spontan dan mudah dilakukan. Dengan humor kita mengajarkan bahwa kita tidak perlu harus melakukan pekerjaan yang sempurna. Namun perlu pula diingat saat bercanda hindari kata-kata yang menyinggung perasaan anak seperti kondisi fisik ataupun kata-kata kasar/tajam.
  8. Memberikan contoh tingkah laku yang sepantasnya melalui perbuatan, perkataan ataupun cara berpikir.
  9. Tentukan perilaku apa saja yang tidak kita sukai, kemudian susun prioritas dan tindakan yang akan diberikan bila anak melakukan hal tersebut.
  10. Tentukan batas usia yang pantas untuk aturan yang kita buat. Buatlah aturan yang fleksibel dan sesuai dengan usia serta kebutuhannya. Aturan yang diberikan kepada anak seharusnya dapat membangun tanggung jawab dan kemandirian anak dalam bertindak.

Percayalah pada kemampuan anak untuk menjadi seorang jenius. Dengan begitu anak akan berkembang menjadi manusia yang penuh percaya diri, mampu memunculkan seluruh kekuatan di dalam diri mereka, dan mengembangkan semua potensi yang belum tersentuh.

Persiapan yang harus dilakukan adalah:

  1. Bimbinglah dengan tidak memberi perintah. Bicaralah dengan lembut dan jadikan belajar menjadi pengalaman yang menyenangkan.
  2. Jangan berharap terlalu banyak. Butuh kesabaran dan fokus pada proses bukan hasil.
  3. Pupuklah kecintaan pada pengetahuan dengan memberikan buku bacaan dan lakukan pembiasaan membaca buku. Ajaklah diskusi tentang isi buku/informasi yang didapat dan tanyakan apa yang mereka lakukan dengan informasi tersebut dalam kesehariannya.
  4. Bangun perilaku senang belajar melalui bermain, mendongeng olah raga, nonton film, dll.
  5. Ciptakan metode sendiri untuk meningkatkan rasa ingin tahu anak dengan cara menyenangkan.
  6. Sediakan buku-buku yang beraneka ragam dengan warna dan gambar yang dapat menstimulasi otak mereka, mainan kreatif yang menantang keterampilan berpikir, atau kegiatan yang melatih motorik kasar/halus,
  7. Luangkan waktu untuk membaca buku atau bernyanyi bersama 15 menit setiap hari. Saat membaca cerita lakukan dengan suara keras dan penuh ekspresi agar anak memberikan perhatian, mendapat kesan mendalam serta membangkitkan rasa ingin tahu. Sedangkan saat bernyanyi jangan lupa memberikan sentuhan musik. Musik dapat memompa adrenalin dan menenangkan. Dengan bernyanyi dan mendengarkan musik maka dapat menyeimbangkan kemampuan otak.

Seringkali kita merasa frustasi ketika harus menghadapi masalah yang berkaitan dengan perilaku anak. Satu kata favorit saat mengatasi perilaku anak yang bermasalah adalah disiplin. Kata ini seolah-olah menjadi kunci bagi orang dewasa untuk menyelesaikan permasalahan perilaku. Sedangkan untuk anak kata disiplin sangat menakutkan karena terkesan keras, galak, main fisik, hukuman dan hal menakutkan lainnya. Ada apa dengan disiplin? Marilah kita luruskan dulu pemahaman tentang disiplin. 

Disiplin yang efektif bukanlah dalam bentuk hukuman, melainkan instruksi. Instruksi ini mengajarkan tingkah laku yang baik, membantu anak menjadi besar dengan rasa percaya diri, bertanggung jawab dan tahu akan tindakannya yang pantas dipuji.

Disiplin bukanlah suatu cara utnuk mengawasi anak kita secara total. Ciptakan karung seribu cara untuk menampung semua gagasan disiplin anda. Ambil apa yang kita butuhkan lalu cobalah. Bila kita menemukan kesalahan maka kita akan tahu cara apa yang sebaiknya kita gunakan. Pemukulian hanya mengajarkan kekerasan dan dapat berpengaruh terhadap anak baik secara fisik ataupun psikis. Selain itu mengajarkan disiplin dengan cara memukul merupakan perilaku melanggar hukum.

Sebenarnya pemahaman disiplin harus dilakukan sejak dini dengan bentuk yang sederhana dan berbeda tingkatannya. Berkaitan dengan hal tersebut maka disiplin sangat dipengaruhi oleh pola asuh orang tua.

Pola asuh Authoritarian:

  • Pola pengasuhan yang keras dan sangat kuat dengan ancaman.
  • Orang tua lebih suka memaksakan nilai-nilai yang mereka ajarkan.
  • Orang tua lebih suka menghukum daripada member hadiah.
  • Orang tua menetapkan peraturan rumah yang keras dan sangat sulit dipatuhi.

Pola asuh Permisif:

  • Orang tua yang mengasuh dengan kehidupan penuh cinta, namu tidak ada aturan dan disiplin sama sekali.
  • Tidak ada hukuman ataupun hadiah atas hal-hal yang umum atau biasa.
  • Orang tua cenderung tidak ada rasa tanggung jawab.
  • Kehidupan dalam rumah tangga seperti ini agak sulit dan membingungkan.

Pola asuh Demokratif:

  • Orang tua mengajarkan anaknya dengan banyak cara. Mereka mengajari bagaimana berlaku secara dewasa dan bertanggung jawab.
  • Kehidupan rumah tangganya dipenuhi dengan cinta.
  • Aturan yang diberlakukan di rumah cukup beralasan serta didasarkan pada usia dan kebutuhan khusus anaknya. Aturan berkembang sesuai dengan perkembangan waktu utnuk member kesempatan kepada anak lebih bebas dan bertanggung jawab.

Ada tiga langkah bagi orang tua untuk dapat membina hubungan dengan anak yang mengalami kesulitan dalam hal disiplin:

  1. Berlatih untuk dapat berkomunikasi dan berinteraksi secara tepat dengan orang lain, belajar untuk mengekspresikan kemarahan dengan efektif, memberi dan menerima.
  2. Memberikan contoh dalam mengajarkan keterampilan baru pada anak agar mereka siap untuk menghadapi tantangan hidup.
  3. Melakukan tukar pikiran dengan orang tua lain untuk mendapat dukungan ataupun motivasi.
  1. Berikan perintah dengan jelas dan spesifik. Buatlah kalimat yang pendek dengan kata-kata sederhana. Jelaskan setiap kata yang tidak dipahami anak. Bila anak dapat berbicara dengan kalimat lengkap mintalah mereka untuk mengulangi perintah kita agar dia lebih mudah mengingat dan memahaminya.
  2. Gunakan bahasa tubuh dengan semestinya. Bicaralah dengan anak secara langsung dengan menatap matanya, berdiri tegak, atau meletakkan tangan anda di pinggang/menepuk tangan agar anak memerhatikan kita dengan sungguh-sungguh. Jagalah bahasa tuuh kita tetap konsisten dengan perkataan sehingga perintah akan terdengar jelas.
  3. Katakan tidak bila kita kurang setuju dengan perkataan atau perbuatan anak yang tidak sesuai dengan harapan. Tetap tenangkan diri saat mengucapkan kata tersebut dan ucapkan dengan tegas dan jelas namun tidak berteriak atau menjerit. Berikan alasan yang rasional, pendek, sederhana dan dapat dipahami oleh anak.
  4. Berbicaralah dengan tenang. Pilihlah kata-kata dengan hati-hati dan hindari ucapan yang merendahkan. Dengan cara seperti itu maka kita mendorong anak untuk mempercayai, mendengarkan dan bekerja sama dengan kita mengatasi masalah yang dihadapinya. Berbicara tenang menjadi proses disiplin dalam berkomunikasi. Penggunaan kata-kata yang menunjukkan kepekaan, kejujuran, dan penghargaan akan memudahkan kita untuk menjalin kerja sama.
  5. Jadilah pendengar yang baik saat anak kita membicarakan perilaku yang kurang pantas. Luangkan waktu dan beri perhatian penuh. Pahami cara berpikirnya dan duduklah bersama. Tatap matanya dan jangan memotong pembicaraan. Hal ini bertujuan untuk memberikan kebebasan baginya dalam mengungkapkan perasaan.
  6. Berusahalah untuk membantu memecahkan masalah. Definisikan masalah ke dalam istilah yang jelas dan sederhana. Kemudian lakukan diskusi untuk bertukar pikiran dalam membuat pilihan dengan segala konsekuensinya. Setelah itu biarkan ia memilih keputusan sendiri.
  7. Ketahuilah bagaimana menggunakan ancaman dengan tepat. Ancaman hanya dapat diberikan pada saat anak tidak kooperatif setelah melalui proses komunikasi yang sudah dilakukan secara bertahap.
  8. Buatlah perjanjian mengenai tingkah laku secara tertulis. Tuliskan dengan jelas pernyataan yang anda inginkan untuk dilakukan anak beserta konsekuensi yang akan diterima oleh mereka. Selain itu juga tuliskan cara yang anda inginkan untuk mengawasi tingkah laku anak. Tawarkan kepada anak imbalan atas tingkah lakunya yang baik.
  9. Adakan pertemuan keluarga satu kali seminggu. Tujuannya adalah menjadi momen bagi orang tua untuk memeriksa keadaan setiap anggota keluarga dan mengetahui perasaan anak.
  10. Jalani terapi keluarga apabila menemukan kesulitan dalam membina komunikasi dan hubungan antar keluarga. Terapi ini bertujuan agar dapat mengembangkan hubungan antar kelarga, membantu mengatasi berbagai konflik antara orang tua dan anak, masalah tingkah laku anak, trauma akibat perceraian, memunculkan rasa percaya diri setiap anggota keluarga serta memberikan penguatan terhadap kelemahan dan kerapuhan dalam keluarga.

Dalam menerapkan aturan kedisiplinan sekolah terkadang kita kurang mendeskripsikan secara rinci maksud dan prosedur yang berlaku. Siswa sebagai objek hanya diminta untuk menaati dan mengikuti aturan tersebut tanpa mengetahui perilaku apa saja yang diharapkan oleh sekolah dan konsekuensi apa yang menanti bila mereka melanggarnya. Saya mencoba untuk berbagi informasi tentang aturan kedisiplinan yang mungkin bisa diterapkan di lingkungan sekolah anda.

Kami seluruh komunitas dari sekolah… menjunjung tinggi tata tertib perilaku yang ada di lingkungan sekolah dengan tujuan:

  • Menciptakan lingkungan yang peduli terhadap rasa aman bagi siswa dalam proses belajar mengajar,
  • Mempersiapkan siswa agar dapat sukses dalam akademik dan sosialisasi di masyarakat,
  • Mengembangkan potensi siswa secara optimal dalam lingkungan yang nyaman,

Oleh karena itu kami menetapkan perilaku siswa sebagai berikut:

  • Siswa diharapkan berada di sekolah untuk belajar setiap hari,
  • Siswa diharapkan dapat menunjukkan perilaku yang sesuai dengan budaya sekolah dan bertanggung jawab setiap waktu,
  • Siswa diharapkan dapat menunjukkan kualitas dan kebanggaan terhadap hasil akademiknya serta kegiatan lain di sekolah,
  • Siswa diharapkan menahan diri untuk tidak mengganggu kesempatan belajar dari siswa lainnya,
  • Siswa diharapkan dapat berperan dalam menjaga lingkungan sekolah yang bersih, aman, nyaman dengan cara menghargai diri sendiri/orang lain, memelihara properti pribadi/sekolah, aturan dan mekanisme sekolah.

Selain itu seluruh staf sekolah diharapkan memberikan lingkungan belajar yang adil dan kesamaan penerapan aturan serta prosedur tanpa membedakan suku, agama, warna kulit, ras, gender, bangsa, status sosial, umur, latar belakang keluarga, keyakinan politik dll.

Bagi orang tua/wali diharapkan mendukung proses belajar siswa dengan menjaga lingkungan belajar yang positif, teratur, aman serta aktif memberikan dukungan terhadap program sekolah ataupun program individu siswa.

Semua siswa yang berada di lingkungan/jemputan/kegiatan sekolah maka mereka berada dalam pengawasan kepala sekolah/staf sekolah yang bertugas. Oleh karenanya setiap kejadian yang berlangsung pada saat itu menjadi perhatian khusus dan dapat dilaporkan kepada pihak yang berwenang.

Guru dan staf sekolah yang bertanggung jawab terhadap penanganan kedisiplinan perilaku siswa memiliki kewenangan untuk:

  • Menjaga kestabilan pelaksanaan aturan perilaku siswa di kelas,
  • Menjalankan secara konsisten dan komitmen tinggi terhadap konsekuensi pelanggaran kedisiplinan perilaku,
  • Mengeluarkan siswa dari kelas apabila mereka melakukan kekerasan, kejahatan, perilaku tak terkontrol (merusak) untuk mengikuti program perbaikan perilaku,
  • Memberikan penguatan terhadap kedisiplinan perilaku siswa di sekolah/jemputan/kegiatan belajar kepada siswa,
  • Meminta bantuan terhadap profesi lain dalam hal penanganan perilaku siswa yang bermasalah,
  • Mencatat semua peristiwa pelanggaran kedisiplinan perilaku yang terjadi dan melaporkan kepada kepala sekolah/orang tua/wali,
  • Meningkatkan kemampuan manajemen penanganan siswa seperti penanganan konflik, pencegahan perilaku kekerasan pada siswa, hambatan emosi, dll.

Setiap pelanggaran akan menerima konsekuensi formal/informal berdasarkan system penanganan siswa yang dibuat oleh sekolah, berupa:

  • Pemanggilan siswa untuk diajak berdiskusi secara langsung oleh guru yang berwenang/orang tua/wali untuk menyelesaikan permasalahan siswa. Sekolah pun berhak untuk mendatangkan staf ahli yang dapat membantu menyelesaikan permasalahan tersebut,
  • Peringatan tertulis kepada siswa dan orang tua dari guru/kepala sekolah,
  • Pemberian tugas kelas yang dilakukan oleh siswa selama jam sekolah atau dipindahkan ke kelas lain untuk mengerjakan tugas tertentu di bawah pengawasan petugas sekolah,
  • Siswa mendapatkan hukuman dari pihak sekolah sedikitnya satu jam. Hukuman diberikan setelah sekolah memberitahukan kepada orang tua sehari sebelumnya dan atau berdasarkan permohonan orang tua. Pemberian hukuman kepada siswa dilakukan di bawah supervisi petugas yang berwenang.
  • Sekolah berhak mengambil hak siswa untuk mengikuti kegiatan field trip, renang, ekstrakurikuler, kegiatan social sekolah ataupun kegiatan lain yang diikuti oleh siswa tersebut.
  • Siswa didaftarkan untuk mengikuti kegiatan Komunitas Perilaku Posistif bersama psikolog/terapis/dokter/ yang direkomendasikan oleh sekolah.
  • Bagi siswa yang memiliki hambatan/kekurangan fisik maka akan mendapatkan penyesuaian dalam hukuman dan prosedur sesuai dengan kondisinya.
  • Pemberian skorsing < dari 10 hari ataupun mengembalikan siswa kepada orang tua dilaksanakan apabila siswa yang melakukan tindakan pelanggaran tata tertib tidak bisa ditangani oleh pihak sekolah/membahayakan keamanan & kenyamanan lingkungan sekolah/keadaan darurat.

Perilaku yang termasuk ke dalam bentuk pelanggaran kedisiplinan sekolah adalah:

  • Keterlambatan datang ke sekolah/kelas,
  • Mengumpulkan tugas ataupun mengembalikan peralatan tidak tepat waktu,
  • Memiliki/menggunakan rokok di lingkungan sekolah,
  • Berbuat curang atau mencontek,
  • Menggunakan property sekolah tanpa ijin,
  • Meninggalkan kelas/kegiatan belajar tanpa ijin,
  • Menggunakan baju seragam yang tidak sesuai atau pakaian yang tidak sopan,
  • Kekerasan fisik, verbal ataupun non verbal,
  • Membawa mainan, telephone genggam, audio/video players, majalah ataupun peralatan lainnya yang dapat mengganggu proses belajar di sekolah. Bagi siswa SD dan SMP yang akan membawa peralatan tersebut maka harus membuat surat permohonan dan mendapatkan ijin dari petugas sekolah, sedangkan untuk SMA diperkenankan menggunakannya setelah pulang sekolah.

Perilaku yang memerlukan penanganan khusus dan tidak mendapatkan toleransi adalah:

  • Perilaku yang mengganggu atau menghalangi keteraturan proses belajar mengajar,
  • Merusak property sekolah dengan sengaja,
  • Tidak menghormati/menghargai staf sekolah yang sedang bertugas sehingga mengganggu proses belajar siswa lainnya,
  • Mengganggu atau mengintimidasi personil sekolah dengan mengancam atau menyerang dengan kekerasan/menciptakan susasana lingkungan yang menegangkan,
  • Mengganggu atau mengintimidasi siswa lain dengan mengancam atau menyerang atau kekerasan,
  • Perilaku yang tidak pantas seperti berkelahi di lingkungan sekolah/kegiatan sekolah/jemputan,
  • Mengulangi perilaku yang salah,
  • Mengikuti atau berpartisipasi dalam organisasi rahasia,
  • Memiliki/menggunakan/menjual barang narkotika atau minuman keras,
  • Memalak, mencuri, membunuh, menculik, berjudi,
  • Membawa dan menggunakan senjata tajam yang membahayakan keselamatan jiwa orang lain,
  • Melakukan tindakan asusila di lingkungan sekolah atau luar sekolah,

Siswa yang terindikasi melakukan pelanggaran seperti di atas maka sekolah berhak berkerja sama dengan aparat hukum untuk memberikan tindakan penanganan selanjutnya.

Sumber dari LEON COUNTY SCHOOL

Metode pembelajaran yang paling sesuai dengan jenjang pendidikan KB/TK adalah  bermain. Tanpa disadari sebenarnya mereka pun sedang belajar secara menyenangkan. Anak KB/TK sangat tidak disarankan untuk mulai belajar berhitung, membaca atau menulis secara formal. Tugas pokok mereka adalah mengembangkan aspek tumbuh kembang dalam bidang afektif dan motorik  seperti berikut ini:

  1. emotional development: kesabaran, tanggung jawab, percaya diri, dll
  2. social development: kebesamaan, empati, komunikasi, berbagi, dll
  3. moral development: sportivitas, jujur, menghormati, menghargai, baik/buruk, dll
  4. creative development: ekspresi, imajinasi, problem solving, eksplorasi, seni, wawasan, dll
  5. imaginative development: bermain peran
  6. physical development: motorik kasar dan halus 

Kurikulum pendidikan di Indonesia sangat padat. Jumlah pelajaran dan bobot materi sangat berat sudah mulai diberikan dari mulai TK sampai SMA. Tidaklah mengherankan jika siswa dan guru harus “berlari sprint” untuk dapat merampungkannya tepat waktu. Jam belajar efektif pun kadang tidak sesuai dengan kalender akademik yang ditetapkan, karena kendala lapangan yang dihadapi oleh guru.   Integrated study merupakan jawaban dari masalah di atas. Kita dapat melakukan integrated study melalui:

  • tema
  • keterampilan belajar

Untuk tingkat TK sampai SD bisa menggunakan sistem tematik, sedangkan untuk SMP dan SMA bisa menggunakan integrasi pada bidang keterampilan belajar  (berpikir kritis, presentasi, eksplorasi, pengamatan, dll). Cara melakukan integrasi dimulai melalui tahapan:

  1. mengumpulkan kompetensi dasar atau keterampilan belajar dari berbagai mata pelajaran yang memiliki kesesuaian tujuan belajar.
  2. menentukan tema dari tujuan kompetensi dasar tersebut (biasanya diambil dari sains atau sosial).
  3. menentukan jenis kegiatan yang berkesinambungan untuk setiap mata pelajaran (nara sumber—> diskusi —> karya tulis —> presentasi —-> unjuk kerja).
  4. menentukan  alokasi waktu pemberian materi.
  5. menentukan cara penilaian hasil belajar.

Tidak semua mata pelajaran dapat diintegrasikan karena memiliki perbedaan dalam hal kompetensi dasarnya. Olah raga, matematika, sosial, musik, dan Pkn merupakan jenis pelajaran yang cukup sulit  untuk diintegrasikan. Hal ini dapat diantisipasi dengan memasukkan tema ke  dalam ilustrasi cerita, gambar di lembar kerja siswa, lagu dll. Harus diakui dalam mengintegrasikan pelajaran memerlukan kreativitas dan keterampilan guru,  agar dapat mencapai tujuan belajar dengan tepat. Keuntungan belajar secara terintegrasi adalah:

  • siswa belajar konsep secara menyeluruh,
  • Siswa mendapatkan pengalaman belajar yang bervariasi,
  • waktu belajar menjadi efektif,
  • beban pencapaian akademik lebih ringan,
  • Pemahaman siswa terhadap konsep dapat lebih optimal,
  • Siswa dapat menyelesaikan masalah secara bijaksana,

Cara belajar seperti ini dapat membuat siswa tertarik dan penasaran. Akibatnya mereka menjadi bersemangat untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah. Bagi gurunya dapat menjadi wahana belajar untuk mengembangkan keterampilan mengajar serta wawasan keilmuannya. SELAMAT MENCOBA!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.